walau masih belum sembuh benar (baca posting sebelum ini: luka lama itu kembali lagi malam ini) tapi the show must go on. ya iyalah, kapan lagi bisa ke jepang dibayarin
pas di bandara saat pembagian tiket, waks, nama orang seenaknya diganti
namun untungnya karena di negara yang tidak berbasiskan latin dalam penulisan, petugas check-in dan imigrasi gak terlalu ngeh kali ya
dapat kursi di pesawat nomer 40an sekian (i forget the exact seat number, doh, am i getting older?
hehe) sementara teman2 di nomer 60an. wah, paling depan nih (dalam rombongan) ceritanya. Prof. Chen gak dihitunglah, kan beliau di kelas bisnis
while i was wondering, (i think) i found out the reason. voila. ternyata duduk di samping sayap! gak di tengah-tengah sih, tapi di belakang flap(s). pas banget
karena emang suka merhatiin sayap kalo sedang ’bekerja’. it’s just simply amazing how these wings can lift a 747-400, one big beatiful machine, and they say, ’size doesn’t matter?’. duduknya di sisi jendela lagi, so i can’t complain about it kan?
setelah berangkat merasakan 747-400, harapannya balik dengan yang lebih baik. syukur2 triple seven atau A-330/340
namanya juga harapan, gak semuanya terkabul, hehe. dapatnya 767. a bit old, dan gak ada layarnya yang berarti gak bisa nonton film
and to make it even worst, no english paper except that-not-so-good china daily
tapi apapun pesawatnya duduknya tetap paling depan dibanding teman2
dapat kursi 62A yang lain 63-65. dan juga tetap di sisi jendela. anyway, gak bermaksud jelek2in 767 loh karena bagaimanapun 767 dulu pernah dipake sebagai benchmark AIR-XXX, tugas perancangan pesawat waktu kuliah dulu. phuh, the old good time
(bersambung ke bag. 2)
ps: kalo mau tau maksud ‘ketiga!’, silahkan baca cerita di sini.

